agar kamu mau membuka hati
dan menerima aku layaknya manusia normal.
Bathin ini merintih ,
pedih, menyesakkan rongga dadaku,
bila mengingat perlakuanmu padaku.
Aku hanya dapat terdiam ,
membisu seribu bahasa,
dan tak dapat mengelak perlakuanmu .
Dan itu kulakukan
bukanlah aku tak dapat membalas atau mengelak ,
ini disebabkan karena besarnya Cintaku padamu.
Aku sedih,
hampir saja ku tak dapat menahan bulir-bulir air mata,
aku hanyalah sebagai selingan
dari kekosongan waktumu.
Aku kau anggap barang mainan
yang dapat kau bolak-balik seenaknya.
Itupun aku sadar....,
tapi....,
aku tak kuasa memberontak
atas permainan yang kau ciptakan.
Duhai Cintaku....
Dengan goresan kata - kata
yang ku curahkan diberanda ini,
bukanlah suatu pemberontakan atas sikapmu,
aku terlalu takut kehilanganmu,
aku teramat kerdil tuk melawanmu,
dan aku...
tak kuasa menghilangkan
rasa Cinta ini dari ruang bathinku.
Kau begitu melekat dipikiran dan mataku,
kau teramat sakti menyihir hatiku,
sehingga aku buta,
tak dapat membedakan warna cinta dan Dusta
yang kamu ciptakan.
![]() |
| Add caption |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar