Senin, 22 Agustus 2011

AKU YANG BIMBANG

Tak ada kata...,
Tak mungkin bicara..,
tak mudah membuka,
Selalu saja mengalah...,
Bertindak salah..,
Menindak patah..,
Merangkul lelah,
Berselimut  malam, hatiku gundah...,

Ditepi pematang mengalir..,
Menyeret napas kehulu jiwa..,
Menyapa raga , aku tak kuasa..,
Kerana cinta sudah mendua..,

Derap langkah keangkuhan menertawai..,
Pesakitan sembunyi dibalik jeruji; pasrah,
Tersenyum pahit dari kealfaan raga.,
Aku terjerembat di tengah gelombang duka ; Sedih

AKU GUNDAH

Menutup siang ...,
hampiri malam,
Helai rambutku kusam
kusut..,berantakan...,
Aku menjinjing beban tanya,
Bersimbah keringat,
menahan penat,
Dan tak ada jawaban tepat..,
Gemeretak gigi berpadu...,
Tangan mengepal kemarahan..,
Sumpah serapah terlontar .., keras.
Tarian jariku mulai kaku,
Berkecamuk egoku.,
berkurang sadarku..,
Tak pelak jantung menggigil ;dingin
Aku Malu...,
Aku marah..,
aku Resah.
dan aku lengah..,
Plak ,plak,plak..
Tangan pertama menjamah wajah,
tak ayal mukanya merah.,
aku marah
namun ...
aku gundah.
Amarah memuncak ,
Antara sadar dan Mimpi,
Aku terhempas di pagar hati,
Tanyaku kelu...,
Dan Beku.

AKU SERBA SALAH

Aku bilang begini salah..,
Tak ku bilang juga salah..,
Apa memang ku selalu salah..,
dalam pandangan matanya.

Aku juga tak mengerti.,
Cinta ini tak pernah pergi..,
dari alam pikiranku.,
Apakah aku yang harus mati..,
Agar bencinya berhenti.

Seandainya  malam tak berganti..,
Mungkin  tak harus ada yg menyakiti ,
Walau dalam batin ini..,
Aku masih sangat menyayanginya....,
Selalu...,
tanpa henti...,

AKU KECEWA

Belum kering air mata ku..,
menghapus pun ku tak mampu,
Dengan sengaja kau bangunkan asaku..,
Kau beri aku sekantong pengharapan,
Semu.....

Kau Rangkul  gelisahku,
Kau Gendong hatiku...,
Kau kidungkan lagu cinta..,
Sehingga ku terlelap didekapmu.

Namun...,
Dibalik dinding cintamu...,
Kau telah bermain api dengan yang lain,
Itupun .., aku belum terbangun dari mimpi..
Merajut tali kasih yang telah putus.
bersamamu...,

Aku manusia bodoh...,
Aku memang telah hanyut..
Aku tak sedang sadar...,
Jika saja..., naluriku tak mencium kepalsuan..,

Kau sembelih hati ini..,
Kau jadikan aku mainan kecil,
Dengan sengaja kau telah mendua Cinta,
Menghujamkan panah kerongga hatiku; Sakit
Sampai asaku terkapar ; Sedih

KAU JAJAH HATIKU

Hampir separuh usia..,
Sepenggal harap memeluk bahagia,
Hingga akhir hayat...,
Tak ada dusta dan Noda di beranda cinta.
Sampai Petaka itu menjamah jiwa...,

Aku terbelenggu ditengah kuasa..
aku terombang ambing dilautan asmara..,
tanpa dapat meraih ranting ditepian arus..,
Dan ku terhempas di gelombang pasang ..,

Dia yang jadi tumpuan hidup,
Dia yang selalu jadi kebanggaan,'
Tanpa sebab , menuangkan tinta hitam,
dirajutan asa ku;
Sehingga memudarkan warna cinta,
jadi semu....!!!

Aku lemah menata kembali..,
Aku pasrah menunggu sepi,
Tak berbatas Cintaku kau khianati,
Sampai membekas di rongga hati ; HITAM

Jalan mu telah kau pilih...,
Langkahmu sulit ku ikuti..,
Napasmu memburu, memaki..,
Mengapa Cinta ini kau khianati ???

CINTA DAN DO'A: AKU MASIH BERHARAP

CINTA DAN DO'A: AKU MASIH BERHARAP: Kebisuan ini terjawab..., Sebaris kalimat mengandung makna, Detak - detak jantung berirama; pesona. Aku mulai berani membuka; kata. Lad...

Minggu, 21 Agustus 2011

AKU MASIH BERHARAP

Kebisuan ini terjawab...,
Sebaris kalimat mengandung makna,
Detak - detak jantung berirama; pesona.
Aku mulai berani membuka; kata.

Ladang hatinya MULAI ku garap,
Menyemai bibit -bibit keindahan,
walau kemarau masih panjang,
Kendati hujan belum turun kebumi.

Deretan kata berbentuk hiasan,
menelaah semua kejadian,
memaknai setiap jengkal tanah HARAPAN,
Balok-balok nadapun berirama; indah.

Hanya rasa yang belum nyata..,
Jika kata...,
masih dipungkirinya..,
Aku punya rasa.....,
Yang dia bawa,
Aku punya kisah....,
Dia belum membacanya...,

Benang merah belum terajut..,
Pemintalnya masih diam..,
Mematung, meraba: makna..,
Dimatanya nyata tergambar,
Ada kata yang dia sembunyikan..,

SATU PILIHAN

Aku tetap satu...,
Tak ada dua, tiga atau empat..,
Aku...., memilih satu..,
Dan ...
mendapatkan satu,
Bila ada pilihan,
Merupakan suatu tantangan,
Bukan suatu timbangan..,

Aku....,
Suka dengan bentuk satu...,
Seiring searah jarum jam,
Ketika satu hal berbenturan..,
Hanya satu..., penyelesaian,
Tidak dua atau lima jawaban..,

Apabila satu diperebutkan...,?
Maka ...,
satu orang lah yang jadi bintang,
Apabila satu kata diperdebatkan..?
Ada jawaban satu kata..., Sepakat.

Aku...,
Tetap kan satu.
Sebagai tanya..,yang baku..,
Kematangan satu kata..,
Keikhlasan satu kata..,
Pengharapan satu kata..,
Perjuangan satu kata..,
Pilihan satu yang ideal..,

AKU IKUT GUNDAH

Aduuuh...,
Pelataranku mulai kotor,
Ku coba membersihkannya...,
Namun...,
ku lihat gadis mungil sedang meratap..,
Menitikkan airmata...,
dipojok tamanku,
Terbersit...,
dibenak ini tuk menyapa..,
tersirat...,
dalam raut wajah mungil itu ada luka,

Gundah ku menemaninya...,

Betapa cekung matanya...
merona merah,
membekas guratan kegalauan....,
hatinya....,
Aku tak dapat meraih dukanya..,
Disaat senja telah menyapa hati.
dan jiwanya...,

BUKALAH HATIMU

Entah apa yang harus ku lakukan
agar kamu mau membuka hati
dan menerima aku layaknya manusia normal.
Bathin ini merintih ,
pedih, menyesakkan rongga dadaku,
bila mengingat perlakuanmu padaku.
Aku hanya dapat terdiam ,
membisu seribu bahasa,
dan tak dapat mengelak  perlakuanmu .
Dan  itu kulakukan
bukanlah aku tak dapat membalas atau mengelak ,
ini disebabkan karena besarnya Cintaku padamu.

           Aku sedih,
hampir saja ku tak dapat menahan bulir-bulir air mata,
aku hanyalah sebagai selingan
dari kekosongan waktumu.
Aku kau anggap barang mainan
yang dapat kau bolak-balik seenaknya.
Itupun aku sadar....,
tapi....,
aku tak kuasa memberontak
atas permainan yang kau ciptakan.

Duhai Cintaku....
          
Dengan goresan kata - kata
yang ku curahkan diberanda ini,
bukanlah suatu pemberontakan atas sikapmu,
aku terlalu takut kehilanganmu,
aku teramat kerdil tuk melawanmu,
dan aku...
tak kuasa menghilangkan
rasa Cinta ini dari ruang bathinku.

 Kau begitu melekat dipikiran dan mataku,
kau teramat sakti menyihir hatiku,
sehingga aku buta, 
tak dapat membedakan warna cinta dan Dusta
yang kamu ciptakan.
Add caption